Beranda > Artikel, Comotan, Friends, Nation > MEMBANGUN INDONESIA YANG PLURALISME BERASASKAN PANCASILA

MEMBANGUN INDONESIA YANG PLURALISME BERASASKAN PANCASILA

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, demikianlah kata bijak yang acapkali disampaikan oleh para petingi negara ini dalam pidatonya. Kata bijak tersebut pantas menjadi bagian dari tindak perilaku kita dalam kehidupan sosial yang dijalani sehari-hari. Artinya bahwa kata bijak tersebut harus kita praktekkan dalam kehidupan nyata dan bukan hanya sebatas pemanis ungkapan belaka.

Dalam perjuangan para pahlawan bangsa ini untuk mengusir penjajah ada beberapa nama yang ngetop dibenakku. Diantaranya Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja XII, Pangeran Antasari dan Tuanku Imam Bonjol. Mereka adalah para pejuang yang murni berjuang untuk mempertahankan negerinya dari gempuran penjajah. Namun hasil analisis menunjukkan bahwa perjuangan mereka cenderung gagal disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

Ø Perjuangannya masih bersifat kedaerahan. Mereka cenderung masih memperjungkan daerah/tanah kelahiran masing-masing. Saat itu belum ada konsep pemikiran bahwa sebenarnya mereka adalah satu dalam tanah Air Indonesia. Bahkan kemudian timbul peperangan antar daerah yang disebabkan oleh adu domba dari penjajah.

Ø Peralatan perang yang digunakan masih kuno. Peralatan perang yang sering digunakan adalah bambu runcing dan senjata khas daerah masing-masing (seperti Rencong dari Aceh, “parang” dari Tapanuli((bener gak seh? Aku lupa: malu juga neh)) dan keris dari Jawa). Peralatan perang yang mereka gunakan tersebut sungguh jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan peralatan perang penjajah yang sudah menggunakan teknologi industri modern.

Ø Kepemimpinan terkonsentrasi pada tokoh agama dan tokoh adat. Hal ini menyebabkan kader kepemimpinan lama bergerak dan jika pemimpin mereka tertangkap atau menyerah maka secara keseluruhan perjuangan akan lumpuh.

Namun pergerakan perjuangan kedaerahan beberapa waktu kemudian mengalami perubahan karena telah mulai timbul kesadaran bahwa sebenarnya mereka satu dalam naungan ibu pertiwi. Saya masih ingat apa yang dikatakan Bung Karno dalam salah satu bukunya bahwa “Indonesia perlu menyatukan seluruh kekuatan untuk kesatuan”. Tanpa membedakan dan melihat latar belakang SARA yang ada disekeliling kita. Apakah loe orang Betawi, apakah kau orang Batak, apakah aing orang Sunda, apakah kamu orang kalimantan. Atau tanpa melihat sebagai Islam, sebagai Protestan, sebagai Katholik, sebagai Budha, dan sebagai Hindu dan Aliran kepercayaan yang pada prinsipnya merupakan satu kesatuan.

Konsep pemikiran yang disampaikan oleh Bung Karno adalah Nasionalisme dan ini menjadi awal sejarah yang baru bagi Indonesia untuk semakin berani menyakatan eksistensinya di dunia Internasional. Hal itu sejalan dengan semboyan negara ini yaitu Bhinneka Tunggal Ika artinya biarpun berbeda-beda namun tetap satu juga. Dan sudah seyogianya semboyan tersebut kita pertahankan dan dilestarikan.

Melihat beberapa kejadian yang belakangan timbul di tanah air, muncul pemikiran dalam benak saya bahwa kita perlu untuk mengangkat kembali pemahaman terhadap pluralisme Indonesia sebagai satu kesatuan dan merupakan aset bangsa yang berperanan besar dalam proses pembangunan dan pencapain tujuan dan cita-cita bangsa ini. Beberapa fakta yang dapat kita lihat adalah tindakan dari para suporter sepak bola Indonesia. Hampir disetiap liga timbul kerusuhan manakala tim yang mereka bela kalah dan umumnya tim yang mereka bela adalah tim daerah asal masing-masing. Membela tim adalah hal yang wajar dan merupakan wujud dari kepedulian kita terhadap tanah kelahiran (daerah asal), namun yang patut disayangkan adalah dukungan yang diberikan terlalu fanatik sehingga kemudian timbul emosional di luar jangkauan. Hal ini menyebabkan nasib klub sepakbola Indonesia stagnan dan bahkan mengalami pemerosotan prestasi.

Fakta lain yang dapat kita lihat adalah dalam pemilihan kepala daerah baik Gubernur, Walikota atau Bupati. Pada hakekatnya masyarakat yang berbudaya hukum akan menerima pemimpin mereka dengan ikhlas manakala pemimpin tersebut telah melalui proses pemilihan atau ditentukan lembaga negara yang berwenang. Namun fakta yang kemudian timbul adalah adanya tindakan para pendukung calon tertentu yang anarkhis ketika calon yang mereka dukung gagal memenangi pemilu. Kejadian yang terjadi di Ambon merupakan tindakan yang patut disayangkan karena tindakan tersebut tidak pantas terjadi dan bertentangan dengan falsafah bangsa.

Tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang membentang dari Barat ke Timur dalam konsep lain disebut Wawasan Nusantara adalah milik kita bersama. Maka kita boleh berbuat dan berkarya untuk bangsa ini. Pancasila sebagai dasar negara menjadi falsafah hidup dan landasan pergerakan keIndonesiaan. Di dalam pancasila terkandung nilai-nilai yang merupakan ciri khas kepribadian bangsa dan itulah yang seharusnya terus kita pakai sebagai patokan hidup.

Salam Perjuangan….

Sinurat Mekar C.SH

Artikel diatas “MEMBANGUN INDONESIA YANG PLURALISME BERASASKAN PANCASILA” merupakan artikel yang lumayan bermakna juga pikirku, dimana artikel ini merupakan buah pikiran dari sang kawan, Sinurat Mekar yang kebetulan kuliah di bidang Hukum. Encer juga otak si kawan ini dalam berargumentasi pikirku dan membuat artikel yang bisa menggugah hati. Yah meskipun saya terlambat dalam membacanya di Inbox yang kebetulan diisi dengan ribuan email yang masuk yang membuat saya lagi kewalahan, tetapi ini sengaja saya sisihkan karena memiliki isi yang bagus. Oh.. sorry ya kawan belum permisi aku caplok artikelmu yang di milis kita ok…. belum sempat buat izinnya he…he…:)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: